Banda Neira

1000200178

Banda Neira atau Banda Naira adalah salah satu pulau di Kepulauan Banda, dan merupakan pusat administratif Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Indonesia. Pentadbiran pulau ini dibahagikan kepada 6 desa, yakni Dwiwarna, Kampung Baru, Merdeka, Nusantara, Rajawali, dan Tanah Rata. Kepulauan Banda adalah salah satu gugusan pulau yang berada dalam wilayah Maluku, Indonesia. Kepulauan Banda termasuk dalam wilayah Kecamatan Banda dengan wilayah administratif daratan seluas 55,3 km2. Pada tahun 2000, mayoritas produksi pala dunia masih berasal dari Kepulauan Banda.

1000200177
Banda Neira pada akhir 1990-an dilihat dari Gunung Api

Kepulauan Banda terdiri atas beberapa pulau, seperti Pulau Lontor, Pulau Banda, Pulau Banda Api, Pulau Ai, Pulau Run, Pulau Pisang, Pulau Hatta, dan Pulau Karaba. Selain itu masih ada sejumlah pulau karang yang tidak ada penghuninya, seperti Suanggi, Naljalaka, dan Batukapal. Pulau yang terluas di Kepulauan Banda adalah Pulau Lontar, dengan luas sekitar 44 km². Pulau Lontar juga disebut Pulau Banda Besar. Pada umumnya pulau-pulau yang lain lebih kecil luasnya. Secara administratif, Kepulauan Banda termasuk dalam wilayah Kecamatan Banda.

Litograf pemandangan Banda Neira berdasarkan lukisan Josias Cornelis Rappard (1883-1889).

“Bandaneira” beralih ke halaman ini. Untuk lagu karangan Ismail Marzuki, silakan lihat Bandaneira (lagu). Untuk kugiran yang senama, lihat Banda Neira (kugiran)Topografi pulau ini cenderung datar, sehingga memungkinkan didirikannya kota kecil. Pulau Banda Neira memiliki kantor pemerintahan, toko, dermaga serta suatu lapangan terbang (atau “bandara”) disebut Bandar Udara Banda Neira. Penduduk pulau ini berjumlah 14,000 orang Keberadaan kepulauan ini sebagai satu-satunya sumber rempah-rempah yang bernilai tinggi itu menjadikan Banda Neira lalu sebagai pusat perdagangan pala dan fuli (bunga pala) utama duniasehingga pertengahan abad ke-19. Kota modennya didirikan oleh anggota Syarikat Hindia Timur Belanda yang menjarah dan menyerang penduduk tempatan Banda untuk mendapatkan palanya pada tahun 1621 dan membawa yang tersisa ke Batavia (kini Jakarta) untuk dijadikan hamba. Pulau ini juga terkenal sebagai tempat pembuangan tahanan politik pada masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Beberapa tokoh perjuangan nasional yang pernah merasakan tinggal di pulau ini di antaranya Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, dan Cipto Mangunkusumo. Pada 2016, rumah tahanan Sutan Syahrir dan Mohammad Hatta telah dijadikan museum sedangkan rumah Cipto Mangkusumo masih dibiarkan kosong.

Sejarah

1000203385
Benteng Belgica di Banda Neira, 1824.

Pada tahun 1512, penjelajah Portugis Francisco Serrão adalah salah satu orang Eropa pertama yang mengunjungi pulau-pulau ini dengan penduduk keturunan Melanesia. Belanda menaklukkan pulau-pulau tersebut pada abad ke-17 untuk meningkatkan produksi pala dan untuk mendapatkan bunga pala (foelie). Penjualan pala menghasilkan banyak keuntungan di Eropa, digunakan dalam pengobatan dukun untuk mengatasi wabah, monopolinya sangat menguntungkan. Sebagian besar penduduk setempat dibunuh pada tahun 1621 selama pendudukan pulau-pulau tersebut di bawah Jan Pieterszoon Coen oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC). Mereka digantikan oleh budak dari Madagaskar dan India. Beberapa ratus orang Banda mengungsi ke Seram bagian timur dan Kepulauan Kei. Belanda melindungi posisinya di Banda dari pesaingnya dengan membangun benteng. Benteng Belgica di Banda Neira, salah satu benteng yang dibangun oleh VOC, merupakan benteng Eropa terbesar di Indonesia. Des Alwi, meninggal November 2010, adalah burgemeester Banda dan berteman dengan Pangeran Bernhard van Lippe-Biesterfeld. Salah satu perkenier terakhir di Banda adalah Wim van den Broeke, yang tinggal di pulau Lonthoir. Baik Pangeran Bernhard maupun mantan menteri Jan Pronk mengunjunginya.

Geografi

1000203386
Pulau Sangeang pada tahun 1846.

Kepulauan Banda terdiri dari 11 pulau dengan 4 diantaranya tidak berpenghuni. Keempat pulau tersebut tidak dihuni karena tidak dapat menumbuhkan tanaman pala karena dipenuhi oleh batu karang. Kepulauan Banda termasuk kepulauan yang tidak memiliki sungai dan sepenuhnya dikelilingi oleh selat, teluk, dan laut terbuka.

Banda, Lonthor, dan Sangeang Api, sekitar tahun 1820.

Kepulauan Banda terdiri dari pulau-pulau yang berpenghuni dan pulau-pulau yang tidak berpenghuni. Pulau-pulau yang berpenghuni yaitu:

Pulau Lontar (Lonthoir), Pulau Banda, Pulau Gunung Api, Pulau Ai, Pulau Run, Pulau Pisang, Pulau Hatta.

Sedangkan pulau-pulau yang tidak berpenghuni yaitu:

Pulau Suanggi, Pulau Naljalaka, Pulau Batu Kapal, Pulau Karaba.

Hasil bumi

1000203388
Alam dan jalur air di Kepulauan Banda.

Kepulauan Banda menghasilkan hasil pertanian dan hasil perkebunan. Hasil pertanian berupa sagu dan garam diperoleh hampir di seluruh pulau, kecuali di Pulau Banda. Hasil pertanian berupa singkong yang ditanam di Neira, Banda Besar, dan Run. Sedangkan hasil perkebunan satu-satunya yang dapat tumbuh di Kepulauan Banda adalah pala.Kepulauan Banda hanya sedikit menghasilkan bahan makanan, termasuk sagu dan garam tidak diproduksi di Banda. Untuk kebutuhan sehari-hari bergantung sepenuhnya dari pasokan produksi bahan makanan dari daerah lain. Sementara itu, singkong ditanam di Neira, Banda besar, dan Pulau Run karena dibawa oleh Portugis pada awal abad ke-16. Produksi perkebunan dari Kepulauan Banda hanya pala.

Wisata

Beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi di Banda Neira di antaranya adalah Benteng Belgica, Benteng Nassau, Istana Mini Neira, Rumah Budaya Banda Neira, Rumah Pengasingan Bung Hatta, Lava Flow.

Istana Mini Neira

1000203368

Istana Mini Neira terletak di Desa Dwiwarna, Pulau Banda Neira. Istana ini didirikan pada tahun 1622. Nama istana ini diambil karena bangunan istana ini menyerupai bangunan Istana Negara di Bogor namun dalam versi yang lebih kecil. Dahulu istana ini digunakan sebagai kantor admistrasi pemerintah Belanda dan menjadi kediaman resmi gubernur beserta residen yang saat itu memerintah di Banda.

Rumah Budaya Banda Neira

1000203369

Rumah Budaya Banda Neira lokasinya berada sekitar 25 meter dari pelabuhan Pelni Banda Neira. Di dalamnya tersimpan koleksi berbagai macam benda-benda peninggalan Belanda mulai dari berbagai jenis meriam hingga beberapa lukisan yang menggambarkan kondisi Banda pada saat itu.

Sejarah Rumah Pengasingan Bung Hatta

Rumah Pengasingan Bung Hatta merupakan tempat Mohammad Hatta menjalani hukuman pengasingan sebagai tahanan politik selama 6 tahun (1936–1942) di Banda Naira, kini di Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Ia bersama dengan tokoh nasional lain bernama Sutan Sjahrir juga diasingkan dekat rumah pengasingan Bung Hatta yang sekarang dikenal sebagai Rumah Pengasingan Bung Sjahrir mulai Februari – Maret Tahun 1942.

Pada tahun 2008, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menetapkan bangunan Rumah Pengasingan Bung Hatta sebagai cagar budaya dari provinsi Maluku dengan SK Menteri Nomor PM.31/PW.007/MKP/2008. Sampai saat ini, bangunan bercat putih yang berlokasi di jalan dr. Rehatta di kawasan Nusantara ini telah menjadi museum sebagai objek wisata sejarah utama di Banda Naira.

1000203370

Pada tanggal 11 Februari 1936, Bung Hatta dan Bung Sjahrir tiba di pulau Banda Neira untuk diasingkan sebagai tahanan politik oleh pihak kolonial Belanda. Menurut pengakuan putri pertama Bung Hatta, Meutia Hatta menjelaskan alasan pihak kolonial Belanda sengaja mengasingkan mereka di tempat yang indah ini (Banda Neira) agar sikap mereka melunak pada pemerintah akan tetapi usaha itu gagal. Dikarenakan mereka belum mendapatkan rumah sebagai tempat tinggal disana, keduanya memutuskan untuk sementara tinggal di kediaman Iwa Koesoemasoemantri disana. Seminggu kemudian, mereka memutuskan untuk pindah ke rumah kosong dari seorang tuan tanah (perkenier) dengan harga sewa seharga f.12,50 (setara Rp 70.000) sebulan. Menurut penuturan putri kedua Bung Hatta, Gemala Hatta menuturkan bahwa rumah tersebut diberi harga murah karena sudah lama kosong dan berhantu tetapi ayahnya tidak ambil pusing dan tetap menyewa rumah tersebut. Setelah beberapa bulan akhirnya Bung Sjahrir memutuskan untuk pisah dan tinggal di rumah yang tidak jauh dari rumah pengasingan Bung Hatta yang sekarang dikenal sebagai Rumah Pengasingan Bung Sjahrir. pada tahun 1944 bangunan rumah pengasingan ini dibangun ulang karena hancur dibom oleh sekutu pada masa Perang Dunia kedua.

1000203364

Di tempat inilah keduanya bertemu dengan seorang tokoh yang nantinya menjadi sejarawan merangkap diplomat kebanggan Banda Neira bernama Des Alwi yang kala itu masih bersekolah kelas 2 di ELS (Europesche Lagere School). Karena kedekatannya, Des Alwi memanggil Bung Hatta dengan sebutan om kacamata dan Bung Sjahrir sampai akhirnya diangkat oleh mereka berdua sebagai anak dan disekolahkan sampai ke luar negeri. Sebelumnya, Bung Hatta diasingkan oleh pihak kolonial Belanda di Boven Digoel, Papua pada tahun 1935 selama setahun. Setelah enam tahun diasingkan disini, Bung Hatta bersama Bung Sjahrir kemudian diasingkan ke Rumah Pengasingan Hatta – Sjahrir di kota Sukabumi, Jawa Barat pada tanggal 1 Februari 1942 dalam rangka mempersiapkan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Masa pengasingan Bung Hatta dan Bung Sjahrir berakhir pada awal tahun 1942 ketika sebuah pesawat amfibi Catalina datang untuk menjemput mereka berdua. Ketika proses pengangkutan ternyata pesawat kelebihan beban, terpaksa akhirnya Bung Hatta merelakan dua peti buku ditinggal dan dititipkan kepada Des Alwi di Banda Neira. Pada tahun 1972, setelah tidak lagi menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, Bung Hatta sempat kembali mengunjungi rumah ini. Ia disambut bagai anak asli dari pulau tersebut. Banyak pula warga yang menangis ketika Hatta pulang kembali ke Jakarta sama seperti ketika waktu Februari 1942 lalu ketika Bung Hatta dan Bung Sjahrir mengakhiri masa pengasingan di sana. Awalnya rumah pengasingan ini dirawat oleh seorang laki-laki bernama Decky Baadila atas amanat dan bantuan dari Des Alwi yang kerap dipanggil Om Des oleh orang sana. Setelah Decky meninggal pada tahun 1984, tanggung jawab pemeliharaan rumah tersebut akhirnya jatuh pada adik kandung perempuannya yang bernama Emi Baadila yang kerap dipanggil Oma Emi dengan bantuan upah bulanan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Ternate sebagai biaya penunjang perawatan.

Sekolah Sore

Semasa dalam masa pengasingan Bung Hatta dan Bung Sjahrir membuka sekolah sore yang tepatnya berada di paviliun selatan bangunan ini. Sekolah yang berbentuk kelas kecil ini terdiri dari tujuh bangku dan meja belajar model lama menghadap sebuah papan tulis kayu. Dalam sekolah sore ini Bung Hatta dan Bung Sjahrir mengajari anak-anak Banda pelajaran aritmetika hingga bahasa Inggris. Syahrir mengajar anak-anak kecil, sedangkan Hatta mengajar anak yang lebih besar. Dalam rangka menanamkan nilai patriotisme dan nasionalisme, Bung Hatta pernah mengajak anak-anak mengecat perahu dengan warna merah-putih. Sedangkan Syahrir kerap mengajak anak-anak naik perahu ke Pulau Pisang, yang berjarak beberapa kilometer dari Neira sambil mengajari mereka bernyanyi Indonesia Raya. Mereka berdua juga mengajarkan bahwa Teuku Umar dan Diponegoro adalah pahlawan yang berjuang melawan penjajah, bukan pemberontak. Suatu hari, Bung Hatta pernah kedapatan mengecat perahu dengan warna merah-putih tanpa warna biru satu titikpun oleh seorang Belanda yang merupakan pejabat disana. Tapi Bung Hatta berdalih, “Tuan kan tahu sendiri, laut sudah berwarna biru.” Si Belanda tersebut lantas pergi tanpa mengindahkan dalihnya. Untuk mengenang jasa besar mereka berdua, pulau Pisang diganti namanya menjadi Pulau Sjahrir sementara pulau yang terletak di tenggara Pulau Banda dinamai menjadi Pulau Hatta.

Bagian Bangunan

Rumah utama

Rumah utama dari rumah pengasingan ini memiliki sebuah selasar depan seluas 29,25 m² dan selasar belakang seluas 42,25 m², sebuah ruang tamu seluas 36 m², sebuah ruang makan seluas 17,6 m², dan tiga ruang tidur yang masing-masing luas terdiri dari 22,5 m², 19,8 m², dan 19,8 m². Atap bangunan ini masih berupa atap seng berbentuk perisai kuda-kuda dari kayu dengan plafon berupa papan kayu yang ditahan oleh balok kayu. Lantai bangunan ini masih berupa ubin terakota berwarna merah bata dengan ukuran bervariasi. Di bangunan inilah terdapat barang-barang peninggalan Bung Hatta seperti, kacamata, meja kerja, mesin tik, kursi santai, dan lemari berisi sepatu dan pakaiannya.

Paviliun Samping (Paviliun Timur)

Bangunan ini memiliki atap seng berbentuk perisai kuda-kuda dari kayu dengan plafon berupa papan kayu yang ditahan oleh balok kayu. Lantainya masih sama dengan lantai rumah utama yaitu berupa ubin terakota berwarna merah bata dengan ukuran bervariasi. Dua ruangan depan lantainya terbuat dari batu alam berwarna abu-abu sedangkan dua ruangan belakang lantainya terbuat dari semen polos berwarna abu-abu.

Paviliun Belakang (Paviliun Selatan/Sekolah Sore)

Di bangunan inilah Bung Hatta dan Bung Sjahrir membuka sekolah sore bagi anak-anak di Banda Neira. Untuk bagian bangunan sama persis seperti rumah utama tetapi yang membedakan adalah adanya deretan bangku dan papan tulis sebagai tempat mengajar serta tempayan besar berisi air untuk minum.

Referensi

  • Suhardi dan Djoko M. R. (2000), hlm. 1-2.
  • trouw.nl, 13 Juli 2002, Banda-eilanden verliezen hun ‘goud’
  • Encarta-encyclopedie Winkler Prins (1993–2002) s.v. “Maluku. § 2. Geschiedenis”. Microsoft Corporation/Het Spectrum
  • Fauzi M., dan Razif (2017), hlm. 9.
  • Fauzi M., dan Razif (2017), hlm. 10-11.
  • Suhardi dan Djoko M. R. (2000). Kepulauan Banda dan Masyarakatnya. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Sub-direktorat Lingkungan Budaya.
  • Fauzi M., dan Razif (2017). Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad X-XVI: Kepulauan Banda, Jami, dan Pantai Utara Jawa. Jakarta: Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. ISBN 978-602-1289-78-5.
  • Asdhiana, I Made (ed.). “Mengunjungi Naira, Mengenang Hatta-Sjahrir”. Kompas.com. Diakses tanggal 2019-03-22.
  • “Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya”. cagarbudaya.kemdikbud.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-03-27. Diakses tanggal 2019-03-22.
  • GATRAcom. “Gatracom – Rumah Pengasingan Bung Hatta Di Indahnya Banda Neira”. www.gatra.com. Diakses tanggal 2019-03-22.
  • [pranala nonaktif permanen] Pruwanto (2013-12-20). Pruwanto (ed.). “Banda Naira, Tempat Indah Pembuangan Hatta-Sjahrir”. Tempo.co. Diakses tanggal 2019-03-22.
  • “Tiba di Banda, Bung Hatta Tempati Rumah Hantu”. Historia – Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. Diakses tanggal 2019-03-22.
  • “Des Alwi: Jadi Anak Revolusi Berkat Hatta & Sjahrir – Semua Halaman – Intisari.Grid.ID”. intisari.grid.id. Diakses tanggal 2019-03-22.
  • “Rumah Pengasingan Hatta dan Syahrir Jadi Saksi Perjuangan”. Republika Online. 2018-11-11. Diakses tanggal 2019-03-22.
  • “Kisah si Penjaga Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Neira”. ADIITOO. 2017-09-30. Diakses tanggal 2019-03-22.
  • Wansyah, Adeir. “Ke Rumah Pengasingan Hatta dan Syahrir di Banda Neira”. Ulinulin. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-03-27. Diakses tanggal 2019-03-22.
  • “5 Destinasi Wisata di Banda Neira yang Patut untuk Dikunjungi”. www.idntimes.com. Diakses tanggal 2021-02-07.
  • Mustika, Syanti. “Istana Negara Berukuran Mini, Ada di Banda Neira”. detikcom. Diakses tanggal 2021-02-07.
  • Sedayu, Agung (2019-08-13). Cahyana, Ludhy (ed.). “Penjara Indah Untuk Hatta-Sjahrir di Banda Neira”. Tempo.co. Diakses tanggal 2021-02-07.
  • Asdhiana, I Made (ed.). “Empat Desinasi Wajib Dikunjungi Pelancong di Banda Neira”. Kompas.com. Diakses tanggal 2021-02-07.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *